Indonesia terjangkit Neurosis

September 10, 2007 at 2:09 am 1 comment

Suatu waktu aku setelah selesai mengerjakan sesuatu di studio aku pulang kerumah (tepatnya malam ini). sayangnya setiba di depan pintu rumah dan setelah menekan bel serta menelpon banyak kali tak satupun orang yang membukakan pintu. Terpaksa aku kembali ke studio yang jaraknya kira2 10 km dari rumah. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan. Aku ingin bercerita ttg perjalananku kembali ke studio.

Setelah sedikit kecewa aku meninggalkan pintu rumah dan berjalan sekitar 150 m untuk mencari angkot. Belum tiba di tikungan pertama aku dikagetkan dengan sesosok tubuh renta milik seorang pria berjenggot putih yang berbaring di atas trotoar dengan berbagai kantong brisikan sesuatu di sisinya. Sontak aku kaget. Hampir bersamaan mata ini ingin mengeluarkan cairannya dan hampir bersamaan pula aku merasa mual dan ingin muntah. Sayangnya cairan itu tak sempat keluar dan kuusahakan agar aku tak muntah di tempat itu.

Hal yang petama terpikirkan saat itu bahwa betapa bangsatnya negara ini. Bagaimana mungkin ada orang tua renta berbaring di trotoar sementara ada ada banyak orang2 yang mengurus bangsa ini tidur2 di kasur yang empuk. Sakali lagi mata ini ingin menangis. Aku pun masih ingin memuntahkan ketakberdayaanku sekaligus rasa tega ku meliat bapak renta tadi. Betapa rusaknya diriku yang setidaknya tiap hari masih dapat bersenang senang dan tidur dibawah atap beralas kasur. Bagsat diri dan Negara ini.Selama ini Negara menginginkan agar warga Negara mau bekerja keras untuk kesejahteraan diri, keluarga dan bangsa. Tapi justru Negara ini melakukan hal lain yang sangat bertentangan dengan hal diatas. Ketidakadilan dipraktekkan dengan mantab oleh Negara ini. Tidak adanya kesempatan yang sama juga dilakonkan oleh bangsa ini. Mau liat bukti nyatanya..Aku suka melihatnya dari sisi pendidikan, mengingat aku juga masih terdaftar sebgai mahasiswa. Rancangan pendidikan yang dibangun oleh pemerintah berupa “Badan Hukum Pendidikan” dimana ini hanya kata lain dari swastanisasi tau revitalisasi memungkinkan bagi setiap universitas mengelola sendiri universitasnya tanpa ada campur tangan lagi dari pemerintah dan yang perlu di garis bawahi bahwa tanpa adalagi subsidi dari pemerintah. Dampaknya, biaya pendidikan akan semakin mahal dan buntutnya hanya orang2 yang mempunyai penghasilan lebih (kaya) yang mampu mengeyam pendidikan di universitas. Sementaa rakyat yang mempunyai penghasilan dibawah rata2 (termiskinkan oleh Negara) tak mampu mengenyam pendidikan. Sebuah bentuk keidak adailan dan ketidakmerataan kesempatan dalam pendidikan.

Sementara didunia yang semakin edan ini, di dunia capital dimana manusia menjual ilmu pengetahuannya untuk bertahan hidup maka manusia pun di tuntut untuk berpengetahuan. Nah bagaimana mungkin manusia bisa bertahan kalo kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan juga telah ikut direnggut. Sebuah jebakan besar kapitalisme global.

Kembali ke pak tua tadi. Mengapa si tua renta ini berakhir di trotoar. Cukuplah bagiku membahasnya dari sisi ekonomi karena hal itulah yang menjadi bahasan puncak. Saya ingin membahasanya lebih jauh lagi. Keluar dari bahasan penguasaan alat2 produksi yang di kuasai oleh para kaum capital sehingga dengan seenaknya ia bisa mempekerjakan dan memberikan gaji semparangan. Kajian marx bagiku begitu mumet dalam buku “das capital” miliknya sehingga marx mengolok-olokku dengan kata “tidak ada ilmu yang mudah”. Bagiku penyebab mendasar hilangnya smua kemerataan kesempatan tua renta tadi karena bangsa dan Negara ini terserang neurosis yang kronis. Bangsa ini sakit. Bangsa dan Negara ini sungguh narsis. Sebuah bahasan dari “frommian gila”

Pemerintah kita sungguh narsis. Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Mereka hanya mementingkan bagaimana membuat pencitraan bangsa yang baik dimata dunia sehingga para investor asing mau menanamkan modalnya untuk “pembangunan” atau lebih suka kukatakan untuk digunakan menggaji para preman pemerintahan (pamong praja) menggusur lahan rakyat, di pakai menebang pohon di hutan, di paka mengeruk isi bumi untuk diambil bahan mentahnya diolah dan dijual kepada rakat bangsa sendiri dengan harga mahal kemudian keuntungannya di bagi-bagi dengan penanam modal dan pemerintah. Sayangnya penanam modal luar itu lebih banyak menikmati keuntungannya di banding pemerintah sendiri. Parahnya lagi keuntungan yang didapakan pemerintah yang seharusnya di pakai untuk memperbaiki keadaan bangsa yang carut marut malah di pakai untuk proyek2 pembelian mobil sedan bagi kesejahteraan para pejabat. Hancurr.

Tak lama aku sudah berada di atas angkot duduk di bagian depan samping pak supir yang sedang bekeja. Belum berapa jauh angkot berjalan aku melihat sebuah papan reklame raksasa di mana salah satu produk provider gsm terpampang dengan kilauan lampu yang terang benderang. Mempertontonkan kelebihan2 produk mereka. Sebuah usaha membangun citra. Kusebut lagi kata “narsis”. Bagaimana perusahaan dalam negeri memeras rakyatnya sendiri. Bagiku iklan yang katanya harga pulsa semakin murah sehingga meringankan pemakai gsm (masyarakat) hanyalah palsu belaka. Bagaimana membentuk citra baik di masyarakat sehingga mereka mau menggunakan produknya (pemerasan yang sangat halus). Para pengusaha tersebut pada intinya hanya memikirkan diri mereka sendiri. Bagaimana meraup keunungan sebesar-besarnya. Padahal sebenarnya komunikasi telah menjadi kebutuhan primer di era virtual ini. Olehnya bagiku akses komunikasi tak boleh dikuasai oleh pihak swasta. Hingga membuatnya diperjual belikan secara serampangan dan mahal.

Parahnya lagi, asset berupa saham dari berbagai provider tersebut dikuasai oleh pihak Negara lain yang rata2 diatas 60%. Bagaimana mungkin akses komunikasi dalam negeri dikuasai oleh Negara lain. Ini berarti setiap perputaran informasi harus melalui Negara pemegang saham tersebut sehingga berbagai informasi penting yang berhubungan dengan kepentingan bangsa dapat dengan mudah diketahui oleh bangsa lainnya yang memeang bertujuan menghancurkan bangsa ini. Parahh.

Lanjut lagi. Di tengah perjalanan aku melihat berbagai poster2 calon gubernur dan wakilnya. Kusebut lagi mereka narsis. Dengan memasang gambar diri untuk membuat kesan bagi orang yang melihatnya. Kesan bahwa mereka hebat dengan kata-kata palsu di bawah poto mereka. Kesan bahwa mereka mampu memimpin daera ini (sulwesi-selatan) Karen mereka puny janji2 kesejahtraan. Kesan bahwa mereka punya banyak duit karena mampu melakukan kampenye media besar-besaran hingga kita tak perlu ragu mereka akan kehabisan dana dalam usaha mensejahterakan bangsa. Semuanya alsu. Mereka narsis. Mereka menganggap bahwa diri merekalah yang paling baik. Sementara kita sebagai masyarakat harus patuh untuk mencoblos lembaran bergambar diri mereka para calon gubernur dan wakilnya.

lanjut lagi. Putaran roda masih terus membawaku ketempat tujuan. Karena bosan duduk di angkot aku mencoba memperhatikan daerah yang kulalui. Tiba-tiba mataku tertuju pada tulisan yang berada di atas gapura berwana hijau tua, “Setia Sampai Akhir”.  Kata yang tidak asing lagi bagi kita, apalagi bagi mereka yang mempunyai keluarga/kerabat tentara. “Narsis” lagi yang terucap. Para aparat Negara ini juga ikut-ikutan mengenggap diri mereka lebih hebat dibandingkan warga sipil. Mereka dengan seenaknya memperlakukan rakyat sipil. Etah berapa banyak kasus penembakan yang dilakukan oleh aparat keamanan hingga menewaskan warga sipil. Aparat keparat.

Tak sadar aku sudah mendekati jalan masuk menuju studioku. Aku menghentikan angkot dan memberikan uang kertas seribuan 2 lembar. itu merupakan balasan jasa dariku bagi supir angkot yang telah mengentarku. Sampai di studio aku langsung melempar tas dan berbaring d depan tv. Tiba tiba aku ingin menuliskan kejadian yang kuliat beberapa waktu tadi. Rasanya aku pun cukup narsis. Tulisan ini kubuat agar orang2 mengetahuiku bahwa aku ini sibuk memikirkan Negara ini yang sama sekali bukan urusanku. Agar orang2 tau bahwa aku hebat bahwa aku cukup cerdas, bahwa aku adalah seorang pemikir. Narsis…

Sampai tulisan ini selesai aku masih sibuk memikirkan betapa kagumnya orang2 terhadapku setelelah membaca tulisan ini.

Entry filed under: Rembesan isi kepalaku. Tags: , .

pengenalan video editing (adobe premiere) Lagi-lagi CD [linux]ubuntu ku nyampe..

1 Comment Add your own

  • 1. luvori  |  August 5, 2008 at 12:44 am

    wkkkkkkk…..

    ngakak……..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


giez twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Categories

arsip

identify

Feeds


%d bloggers like this: